Tentang UX Writing (Untuk Pemula)

“UX Writer tuh ngapain sih?”

Simpelnya, kalo UX Writer itu ga ada, jadinya kayak gini:

Source: https://bit.ly/2TDGoDO

Jadinya kosongan aja. Makanya, tugas dari UX Writer adalah mengisi kekosongan itu.

Tapi, gak cuman ngisi dengan kata kata doang.

Ada prinsip yang dipegang banget oleh parah UX Writer, yaitu:

(Singkat), (Jelas), (Berguna)

Singkat: karena memang harus disesuaikan dengan layar smartphone

Jelas: agar tidak ada salah arti, dan membingungkan pengguna

Berguna: karena tugas tulisan itu sendiri memberi instruksi pada pengguna.

“Cuma gitu doang? Gampang, dong. Cuman nulis perintah dan informasi doang mah, kan emang dari dulu udah begitu”

Ini dia..

Ada pergeseran trend karena semakin maraknya perusahaan yang menggunakan aplikasi.

Setiap perusahaan pasti ingin terlihat berbeda, pasti ingin bisa menarik pengguna untuk terus menggunakan layanannya, dong. Ya kan?

Yaps…

Karena aplikasi yang digunakan harus memiliki, hmm… istilahnya “nyawa”, agar aplikasi seperti hidup dan berkomunikasi oleh pengguna.

“Human-friendly app”, adalah istilah yang digunakan para perusahaan untuk supaya dekat dengan pengguna. Nah, disinilah tugas penting dari UX Writer.

Lihat contoh dibawah deh

Contoh #1

Coba lihat perbedaan dari kedua foto ini

Source: https://bit.ly/2PNbAzc

Dulu, mungkin bisa digambarkan dengan foto yang sebelah kiri, dan trend sekarang menjadi yang sebelah kanan.

Sangat jelas perbedaannya, intinya error message ini ingin ngasih tau kalo hotel yang anda cari tidak bisa ditemukan.

Singkatnya dapet, jelasnya apalagi, dan berguna karena orang langsung paham.

Contoh #2

Source: https://bit.ly/2PNbAzc

Masalahnya adalah:

Ga semua orang inget tanggal kalender.

Perubahan dari tanggal menjadi perintah “tomorrow” buat pengguna jadi ga mikir 2x lagi saat dapet perintah itu.

Contoh #Brief

Kali ini adalah contoh kerjaan seorang UX Writer

Dikasih brief tentang masalah dan kriteria, lalu diisi di dalam aplikasi

Source: https://bit.ly/32UdzHa

Penggunaan kata yang tepat, sekali lagi, dapat mempermudah urusan pengguna dalam memakai aplikasi.

Untuk yang ingin melatih dan coba coba skill UX Writing, ada beberapa web yang menyediakan latihannya.

Kalo yang sama dengen contoh diatas, bisa akses ke web ini:

dailyuxwriting.com

“Tapikan UX Writing ga ada jurusan kuliahnya, terus, kalo mau ngelamar jadi UX Writer harus apa?”

Nyediain ini..

Portofolio

Emerson Schroeter menjelaskan dalam artikelnya, ada 5 hal yang harus diperhatikan dalam membuat portofolio

  1. Ketahui audience anda

Ketika ingin bicara dengan yang tua, kayaknya kurang pas aja kalo pake bahasa anak muda yang kekinian. Hal ini penting banget, agar pengguna merasa kian relatable dengan gaya bahasa yang sama.

Nah, disini juga kita dapat menentukan Brand voice dari tulisan.

2. Lihat pada portofolio yang udah ada

Seorang content creator aja butuh bahan/referensi untuk menghasilkan karya. Tujuan agar kita tau standar, dan mungkin format yang disajikan seperti apa

Dibawah ini ada beberapa referensi yang bisa dijadikan acuan:

3. Kumpulkan sampel pekerjaan anda

Kumpulkan 3–5 sampel yang sudah dibuat, lalu satukan dan dijelaskan dalam sebuah artikel.

Mungkin tulisan saya yang ini bisa dijadikan referensi:

https://medium.com/@fadhilhaq/ux-writing-case-study-indonesia-app-64d2cc60faf1

4. Buat rencana

Rencana yang baik adalah jelas dalam penyajiannya, mulai dari hal hal apa saja yang bisa diprioritaskan pada portofolio. Review dari UX David Travis, mungkin bisa dijadikan acuan.

Saat Anda merencanakan, tanyakan ini pada diri anda:

a. Seperti apa struktur dan format keseluruhannya?
b. Apa yang akan ada di halaman pertama / landing?
c. Urutan apa yang harus diikuti oleh studi kasus?
d. Bagaimana saya akan menceritakan kisah setiap sampel atau proyek dengan cara yang jelas, singkat, dan mudah dicerna?
e. Bagaimana saya bisa membuat seluruh dokumen / situs mudah dilihat?

Kosongkan hal-hal ini dalam pikiran, lalu buat di atas kertas, dan kemudian mulai kerjakan dalam sebuah desain.

5. Beritahu ceritanya

Daripada membiarkan pembaca Anda bertanya-tanya tentang detailnya, hubungkan titik-titik untuk mereka. Ambil sampel pekerjaan Anda satu per satu dan ubah masing-masing menjadi studi kasus yang kuat yang menjawab pertanyaan-pertanyaan ini:

a. Apa situasi atau masalahnya?
b. Bagaimana Anda mendekati masalah? Mengapa?
c. Apa solusi yang Anda buat?
d. Apa dampak dari solusi ini pada proyek secara keseluruhan?

Poin tersebut bisa dijelaskan pada sebuah artikel yang berisi kumpulan hasil kerjaan anda.

“Dalam mendukung terjadinya proses diatas, lalu, skill apasih yang harus kita punya?”

Dilansir dari tulisan Ekrut, berikut merupakan penjelasannya.

Hard skill UX Writer

Hard skill adalah kemampuan atau pengetahuan spesifik yang perlu dimiliki oleh seseorang agar bisa menunjang pekerjaan. Adapun hard skill yang perlu dimiliki oleh UX Writer adalah sebagai berikut:

  • Kemampuan menulis yang fantastis
  • Akrab dengan penggunaan tools seperti Google Document, Trello, prototyping tools, software video conference
  • Kemauan mempelajari proses desain UX
  • Mengenali brand voice dan menerapkan branding tersebut ke mikroskopi

Soft skill UX Writer

Soft skill adalah kemampuan seseorang di luar kemampuan teknis yang dapat memengaruhi hubungan interpersonalnya di tempat kerja. Berikut beberapa soft skills yang dibutuhkan UX Writer.

  • Berpikiran terbuka
  • Memiliki rasa penasaran yang besar
  • Memiliki rasa empati
  • Mampu bekerja sama dengan tim
  • Mampu mengidentifikasi manfaat dari produk

--

--

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store