Tentang Masalah

Fadhil Haqq Fikryan Nugraha
2 min readSep 22, 2019

--

Masalah itu ibarat tamu, ga mungkin dateng ga bawa alasan. Masalah, beserta alasan yang menyelimutinya kadang terlihat sangat menakutkan, tapi nyatanya, memang iya. Kalo dilihat dari sudut pandang orang kebanyakan. Makanya coba lihat dari sudut pandang lain. Gua sih punya prinsip, kalo jangan ikutin orang kebanyakan, karena yang paling banyak selalu akan di bawah. Keren kan? Iyalah

source: pixabay.com/free-photos

Coba deh merenung sejenak kalo lagi dihadapkan dengan masalah, cari alasannya. Ini si kampret ini dateng mau ngapain gua nih, pasti ada apa apanya. Atau mungkin gini, prespektifnya dibalik, ini si kampret ini (aka masalah), dateng ke gua karena apa ya? Apakah ada sesuatu yang gua belom selesai kan sampai akhirnya dia datang lagi? Atau ada sesuatu yang gua lakukan sampai akhirnya dia datang saat ini? Karena sekali lagi, masalah datang bukan lagi tanpa alasan.

Ibarat lu adalah sebuah pisau, suatu ketika lu pengen dipake sama koki buat motong daging sapi limo yang keras banget itu, pas koki itu make elu, elu ga siap dan gabisa buat motong daging itu, akhirnya lu harus hadapkan dengan masalah yang namanya asahan. Asahan adalah masalah, dan alasan asahan ini datang adalah karena elu kurang tajem, atau kurang siap. Kalo dipaksain ga akan pernah bisa, makanya dihadapin sama masalah dulu, tujuannya biar elu makin tajem. Jangan pernah dihindarin, kapan siapnya kalo gitu?

Layaknya gambar diatas, menghindar dari masalah sama halnya mengumpat di dalam kardus besar yang dapat menutupi dirinya, dan di luarnya banyak sekali masalah menunggu. namun ternyata selama dia mengumpat, dia hanya melihat dari sisi kardus yang sama, waktu berlalu lama dan dia memutuskan untuk berbalik arah. terang dilihatnya, dari titik putih dalam kardus itu dia melihat cahaya. saat ia melihat keluar, dia melihat masalah yang sama, tapi dari sudut pandang yang berbeda.

Kalo lu seorang mahasiswa, apalagi tingkat akhir. Mungkin skripsi adalah menjadi masalah bagi sebagian kaum, sebagian besar pastinya. Kalo kita mikir dari sudut pandang yang berbeda, bukan dari orang kebanyakan. Coba pikirin, jangan jangan ini skripsi emang nantinya bakal ngebentuk soft skill baru buat gua di masa kerja nanti, atau mungkin kenapa sih ini skripsi gua anggap jadi masalah? Apa karena gua belom emang terlalu tumpul? Jadi harus diasah lagi untuk mencapai standar kelulusan?

Amazing, bukan?

--

--