Ketika Sumber Masalah Kita Ternyata Harapan Kita Sendiri

Bulan lalu, gue baru aja beli buku baru yang berjudul “Everything is f*ck” atau dalam bahasa Indonesianya jadi, “Sengala-galanya Ambyar”. Agak aneh, tapi yaudalah.

Buku tersebut gue beli bukan tanpa alasan. Alasan pertama adalah karena gue tergerak dengan kisah beberapa orang tua yang menurut gue “semena-mena” menaruh harap dan akhirnya jadi beban buat anaknya, dan.. itu aja, yang kedua gajadi ada ya. Maap

Alasan pertama dan satu satunya yang gue jelaskan tadi. Gue bener-bener merasa tergerak untuk mengulik “apasih sebenernya harapan itu?”

Seperti banyak hal yang disalah artikan orang isi kepala manusia kebanyakan, gue yakin yg saat ini ada dipemahaman masyarakat juga cenderung salah. Makanya gue baca itu buku

Bicara masalah harapan dari orang tua ke anak tadi, menurut gue pribadi itu salah. Mungkin ini akan terdengar sangat aneh, atau ada berpikiran “durhaka kamu”

Well, coba lihat sekeliling. Berapa banyak teman kita yang stres karena beban orang tuanya?

Masalah jodoh maunya yang PNS lah, maunya yang hafal 30 juz lah, maunya yang PNS dan hafal 30 juz lagi. Ya hidup kan bukan GTA yang bisa dicustom.

Beban tersebut yang buat kita, dan teman teman kita jadi hilang arah, mau coba hal yang disuka, tapi nanti dilarang sama orang tua karena nggak sejalan. Padahal itu bisa aja cara mengembangkan potensi diri kita, yang mana adalah berbeda beda.

Bukankah harapan orang tua harusnya hanya ingin memastikan anaknya bahagia hidupnya? Bukan malah disuruh ikutin jalan hidup orang tua kan?

Kesimpulan yang gue dapat dari hampir seperempat baca itu sebenernya udah bisa dipahami secara garis besar. Bunyinya seperti ini:

“Harapan itu adanya di dalam diri, untuk mentrigger motivasi agar terus memberikan semangat di dalam diri. Bukan di luar, yang akhirnya buat kita kecewa

Dan hasilnya jadi seperti ini:

KETIKA KITA BERHENTI BERHARAP SAMA ORANG LAIN, KITA MENGHILANGKAN SATU MASALAH YANG MUNGKIN TERJADI DI MASA DEPAN”

Gimana menurut kalian? Kalo belum paham, coba deh baca sekali lagi.

Kalo masih ga paham, coba gue jelaskan secara singkat disini.

Jadi, selepas dari bahasan orang tua tadi, mari berkaca ke dalam diri.
Pasti sering ya kita merasa dikecewain sama orang lain, mau itu temen deket, pasangan, rekan kerja, bahkan pasangannya rekan kerja. Sampe akhirnya terpuruk, dan merasa dunia seakan berakhir.

Mari berpikir. Sebenernya itu salah siapa ya?

Mereka? Yakin?

Coba, lain halnya kalo kita yang berusaha sendiri, atau kalo emang nggak bisa, kita jangan pernah menaruh harap pada orang di luar kita. Karena pasti mengecewakan. Ga ada yg pasti di dunia ini. Tapi lain halnya kalo berharap sama tenaga profesional, kalo itu kan bisa diliat track recordnya dulu.

Gue sangat percaya, kita bisa meringankan diri kita di masa depan dengan cara berhenti berharap kepada hal hal yang ada di luar kontrol kita.

Again, Bukankah seringkali hal yang ga kita harapkan malah datang ke hidup kita selama ini?

--

--

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store